zonawidasworo

percaya dan resapilah

Keluarga Juni 11, 2012

Filed under: kuliah — rarasarumwidasworo @ 11:57 pm
Tags: , ,

RA- Tidak terasa sudah hampir 4 tahun menimba ilmu di kampus tercinta ini. Banyak hal yang saya temui dan temukan di area yang sangat membanggakan, yah sebagai seorang mahasiswa. Mengenang masa 4 tahun silam, bagaikan menemukan keluarga baru yang tak tersepakati untuk menjadi satu tapi dengan bergulirnya waktu kami dipersatukan menjadi satu keluarga yang ..hemm lumayan harmonis. Seorang dewasa dibutuhkan dalam keluarga layaknya seorang ayah yang tegas dalam mengambil keputusan. Seorang yang hangat dibutuhkan layaknya seorang ibu yang melindungi. Seorang yang lugu layaknya seorang adik yang serba ingin tahu, atau bahkan seorang yang jahil seperti kakak yang mengganggu. FYI di semester 7 kemarin saya dapat mata kuliah pengembangan masyarakat dan seperti biasa saya  emm kami (satu kelompok) dapat tugas membuat makalah dan ppt. Kebelutan tugasnya mengenai Konsep Keluarga dan Fungsinya… want to know? check it broot…


KONSEP KELUARGA DAN FUNGSINYA

Perkembangan anak pada anak usia antara tiga enam tahun adalah perkembangan sikap sosialnya. Perkembangan anak sangat dipengaruhi oleh interaksi anak dengan lingkungan sekitar. Melalui proses interaksi sosial tersebutlah seorang anak akan memperoleh pengetahuan, nilai-nilai, dan perilaku penting yang diperlukan  dalam partisipasinya di masyarakat kelak, yang dikenal juga dengan istilah sosialisasi. Hal ini sejalan dengan yang dikatakan Zanden (1986) bahwa kita terlahir bukan sebagai manusia, dan baru akan menjadi manusia hanya jika melalui proses interaksi dengan orang lain.

Pengaruh paling besar selama perkembangan anak pada lima tahun pertama kehidupannya terjadi dalam keluarga. Kepribadian orang tua sangat berpengaruh terhadap pembentukan pribadi anak. Penelitian Rohner, dkk (1986) di Amerika menunjukkan bahwa seorang ibu yang memperlakukan anak dengan kasar, baik fisik maupun verbal akan menghasilkan pribadi anak yang cenderung kasar setelah dewasa.

  1. A.    Konsep Keluarga

Keluarga merupakan satu-satunya lembaga sosial, disamping agama, yang secara resmi telah berkembang di semua masyarakat. Kedudukan pribadi dalam keluarga dan pertanggungjawabannya merupakan perhatian baik secara resmi maupun tidak pada masyarakat dengan tingkat teknologi tinggi maupun rendah.

Akibat stuktur dan peran yang dipunyai oleh para anggotanya sangat bervariasi dari suatu masyarakat ke masyarakat lain, sehingga istilah keluarga tidak mudah didefinisikan.

Pengertian keluarga :

Keluarga berasal dari bahasa Sansekerta “kula” dan “warga” yang berarti “anggota” atau “kelompok kerabat”.

  1. Keluarga adalah suatu kumpulan manusia yang dihubungkan melalui pertalian darah, perkawinan atau pengambilan anak angkat.
  2. Keluarga adalah lingkungan dimana beberapa orang yang masih memiliki hubungan darah dan bersatu.
  3. Keluarga merupakan bagian terkecil dari susunan masyarakat yang akan menjadi dasar dalam mewujudkan suatu negara. (Emil Salim 1983)
  4. Menurut pengertian psikologis, keluarga adalah sekumpulan orang yang hidup bersama dalam tempat tinggal bersama dan masing-masing anggota merasakan pertautan batin sehingga terjadi saling mempengaruhi, saling memperhatikan dan saling menyertakan diri (Soelaeman 1994).
  5. Menurut pengertian paedagogis , keluarga adalah “satu persekutuan hidup yang dijalin oleh kasih sayang antara pasangan dua jenis manusia yang dikukuhkan dengan pernikahan, yang bermaksud untuk saling menyempurnakan diri itu terkandung perealisasian peran dan fungsi sebagai orang tua (Soelaeman 1994).
  6. Secara tradisional, keluarga sebagai dua atau lebih oarng yang dihubungkan oleh ikatan perkawinan, adopsi (hukum) yang memiliki tempat tinggal bersama.
  7. Menurut Duvall, keluarga merupakan sekumpulan orang yang dihubungkan oleh ikatan perkawinan, adopsi, kelahiran yang bertujuan untuk meningkatkan dan mempertahankan budaya yang umum, meningkatkan perkembangan fisik, mental, emosional, dan sosial dari tiap anggota.
  8. Sedang Morgan (1977) dan Sitores (1988) menyattakan bahwa keluarga merupakan suatu grup sosial primer yang didasarkan pada ikatan perkawinan (hubungan suami-istri) dan ikatan kekrabatan (kekerabatan antar generasi, orang tua-anak)
  9. Bila ditinjau berdasarkan Undang-Undang No. 10 Tahun 1972, keluarga terdiri atas ayah, ibu dan anak karena ikatan darah maupun hukum.
  10. Menurut Bailon dab Maglaya, keluarga adalah kumpulan dua orang atau lebih yang bergabung karena hubungan darah, perkawinan, atau adopsi, hidup dalam satu rumah tangga , saling berinteraksi satu sam lainnya.
  11. Menurut Zanden (1986) di dalam keluargalah kali pertama anak-anak mandapat pengalaman diri langsung yang akan digunakan sebagai bekal hidupnya dikemudian hari melalui latihan fisik, sosial, mental, emosional, dan spiritual.
  12. Malinowski (1930) dalam Megawangi (1998) tentang “principle of legitimacy” sebagai basis keluarga, bahwa struktur sosial (masyarakat) harus diditernalisasikan sejak individu dilahirkan agar seorang anak mengetahui dan memahami posisi dan kedudukannya.

Tiga elemen keluarga dalam struktur internal keluarga, yaitu :

1)      Status sosial, keadaan status social menjadi penting karena dapat memberikan rasa memiliki, karena ia merupakan bagian dari system tersebut.

2)      Peran sosial, yang menggambarkan peran dari masing-masing individu atau kelompok menurut status sosialnya.

3)      Norma sosial, yaitu standar tingkah laku berupa peraturan yanbg menggambarkan sebaiknya seseorang bertingkah laku dalam kehidupan social.

  1. B.     Macam – macam Keluarga
  2. 1.      Keluarga Inti

Keluarga inti terdiri dari ayah, ibu,dan anak. Ciri-cirinya antar lain adalah hubungan anggotanya intim, kooperatif dan biasanya face to face.

Keluarga berperan menciptakan persahabatan, kecintaan, rasa aman, hubungan antar pribadi yang bersifat kontinu.

 

  1. 2.      Keluarga Besar

Keluarga besar adalah siapa saja yang mempunyai hubungan darah dengan keluarga inti. Keluarga besar itu diikat oleh ketentuan yang terdapat dalam adat istiadat dan kebiasaan.

  1. C.    Fungsi Keluarga

Menurut Vembriarto (1990) ada tiga macam fungsi yang tetap melekat sebagai ciri hakiki, yaitu sebagai berikut :

  1. Fungsi Biologis

Fungsi biologis orang tua ialah melahirkan anak. Fungsi ini sebagai dasar kelangsungan hidup masyarakat. Keluarga cenderung menyukai anak sedikit karena beberapa faktor, diantaranya :

Perubahan tempat tinggal

Makin sulitnya fasilitas perumahan

Banyaknya anak dipandang sebagai hambatan

Meningktanya kesibukan wanita mengurangi kesuburan

Menipisnya ajaran agama yang menganjurkan agar keluarga memiliki banyak anak, dll

  1. Fungsi Afeksi

Fungsi afeksi berhubungan dengan hubungan cinta kasih antar sesama anggota keluarga. Dari hubungan cinta kasih inilah lahir hubungan persudaraan, persahabatan, kebiasaan, identifikasi, persamaan pandangan dan nilai-nilai.

  1. Fungsi Sosialisasi

Fungsi sosialisasi ini menunjuk peranan keluarga dalam membentuk kepribadian anak. Melalui interaksi sosial di dalam keluarga itu anak mempelajari tingkah laku, sikap, keyakinan, cita-cita dan nilai-nilai dalam masyarakat.

Fungsi sosial mengalami perubahan yang meliputi :

1)      Fungsi pendidikan

Keluarga berfungsi sebagai tempat memperoleh pendidikan bagi anggotanya, terutama anak yang masih berusia dini. Seiring berjalannya waktu peran ini akan lebih banyak didominasi sekolah.

2)      Fungsi rekreasi

Keluarga menjadi medan rekreasi bagi anggotanya. Akan tetapi, dengan berkembangnya berbagai sarana rekerasi maka peran ini semakin lama semakin luntur.

3)      Fungsi keagamaan

Keluarga juga sebagai pusat pendidikan agama bagi anggotanya, terutama anak. Peran sekulerisasi dalam masyarakat dan merosotnya institusi agama telah menggesre peran ini. Sangat memprihatinkan.

4)      Fungsi perlindungan

Keluraga wajib memberi perlindungan, baik fisik maupun sosial bagi anggotanya. Akibat banyaknya lembaga perlindungan hukum, fungsi ini pun lama kelamaan menjadi pudar.

Keluarga menyumbangkan hal-hal berikut kepada masyarakat :

a)      Kelahiran

b)      Pemeliharaan fisik keluarga

c)      Penempatan anak dalam masyarakat

d)     Control sosial

Fungsi keluarga adalah bertanggung jawab dalam menjaga dan menumbuhkembangkan anggota-anggotannya. (Suprihatin,G, dkk., 1992)

Pemenuhan kebutuhan anggota keluarga diantaranya :

Pemenuhan kebutuhan pangan, sandang, papan, dam kesehatan.

Kebutuhan akan pendidikan formal, informal dan nonformal.

Fungsi keluarga menurut Friedman (1992) adalah :

  1. Fungsi afektif dan koping
  2. Fungsi sosialisasi
  3. Fungsi reproduksi
  4. Fungsi ekonomi
  5. Fungsi fisik

Sedang menurut Allender (1998), fungsi keluarga :

  • Affection
  • Security and acceptance
  • Identity and satisfaction
  • Affiliation and companionship
  • Socialization
  • Controls

Fungsi keluarga BKKBN (1992)

  1. Kegamaan
  2. Sosial budaya
  3. Cinta kasih
  4. Melindungi
  5. Reproduksi
  6. Sosialisasi dan Pendidikan
  7. Ekonomi
  8. Pembinaan lingkungan

Menurut Peraturan Pemerintah RI No. 21 Tahun 1994, fungsi keluarga :

  1. Fungsi keagamaan

Fungsi ini sebagai wahana persemaian nilai-nilai luhur budaya bangsa untuk menjadi insan agamis yang penuh iman dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

  1. Fungsi sosial budaya

Fungsi ini berguna untuk mengembangkan kekayaan budaya bangsa yang beraneka ragam dalam satu kesatuan.

  1. Fungsi cinta kasih

Fungsi ini mejadi wadah persemaian kehidupan yang penuh cinta kasih lahir dan batin. Cinta kasih memberi pengaruh bagi perbuatan-perbuatan dan sikap-sikap yang bijaksana.

 

  1. Fungsi melindungi

Fungsi ini menumbuhkan rasa aman dan kehangatan pada setiap anggota keluarga.

  1. Fungsi reproduksi

Fungsi ini bertujuan untuk melanjutkan kelestarian dan kesejahtraan manusia.

  1. Fungsi sosialisasi dan pendidikan

Fungsi ini memberi peran kepada keluarga untuk mendidik keturunan agar bisa melakukan penyesuaian dengan alam kehidupannya di masa yang akan datang.

  1. Fungsi ekonomi

Sebagai pendukung unsur kemandirian dan ketahanan keluarga.

  1. Fungsi pembinaan lingkungan

Member kemampuan untuk menempatkan diri secara serasi, selaras, seimbang sesuai daya dukung alam dan lingkunga.

D. Struktur dan Sistem Keluarga

Struktur keluarga

1. Struktur egalisasi : masing-masing keluarga mempunyai hak yang sama dalam menyampaikan pendapat (demokrasi)

2. Struktur yang hangat, menerima dan toleransi

3. Struktur yang terbuka, dan anggota yang terbuka mendorong kejujuran dan kebenaran (honesty dan authenticity)

4. Struktur yang kaku : suka melawan dan tergantung pada peraturan

5. Struktur yang bebas : tidak adanya aturan yang memaksakan (permisivenes)

6. Struktur yang kasar : abuse (menyiksa, kejam, kasar)

7. Struktur emosi yang dingin (isolasi, sukar berteman)

8. Disorganisasi keluarga (disfungsi individu, stress emosional)

Struktur kekuatan keluarga :

1. Legitimate power/ authority (hak untuk mengontrol) seperti orang tua terhadap anak.

2. Referent power (seseorang yang ditiru)

3. Resource of expert power (pendapat, ahli, dll)

4. Reward power (pengaruh kekuatan karena adanya harapan yang akan diterima)

5. Coercive power (pengauh yang dipaksakan sesuai keinginannya)

6. Informational power (pengaruh yang dilalui melalui persuasi)

7. Affective power (pengaruh yang diberikan melalui manipulasi dengan cinta kasih misalnya hubungan seksual)

Nilai-nilai dalam keluarga:

1. Nilai merupakan suatu system, sikap dan pelayanan yang secara sadar atau tidak, mempersatukan anggota keluarga dalam satu budaya. Nilai keluarga juga merupakan suatu pedoman perilaku dan pedoman bagi perkembangan norma dan peraturan.

2. Norma adalah pola perilaku yang baik, menurut masyarakat berdasarkan system nilai dan keluarga.

3. Budaya adalah kumpulandari pola perilaku yang dapat dipelajari bagidan ditularkan dengan  tujuan untuk menyelsaikan masalah.

Sistem dalam suatu keluarga:

a). Komponen : dalam suatu masing-masing anggota mempunyai sifat intedepensi, interaktif dan mutual.

b). Batasan : batasan masing-masing keluarga akan berbeda tergantung dari beberapa factor seperti; sosial, budaya,ekonomi dll.

c). Keberadaan: keluarga merupakan bagian dari siste yang luas yaitu masyarakat.

d). Terbuka (batas yang permeable) dimana dalam keluarga terjadi pertukaran system.

e). Masing-masing keluarga mempunyai organisasi/ struktur yang akan berpengaruh didalam  fungsi yang ada dari angotanya.

E. Sosialisasi Dalam  Keluarga

Keluarga meupakan institusi yang paling penting pengaruhnya terhadap proses sosialisasi individu atau seseorang. Kondisi- kondisi yang menyebabkan pentingnya peranan keluarga dalam proses sosialisasi anak, ialah:

1.  Keluarga merupakan kelompok kecil yang anggotanya berinteraksi face to face secara tetap.

2.  Orang tua mempunyai motivasi yang kuat dala mendidik anak karena merupakan buah cinta kasih dari hubungan suami istri.

3. Hubungan sosial dalam keluarga relative tetap sehingga memainkan peranan penting dalam proses sosialisasi anak.

Tujuan sosialisasi dalam keluarga yaitu:

a. Penguasaan diri

Masyarakat menuntut penguasaan diri pada anggota-anggotanya.ini merupakan tuntutan sosial yang pertama yang akan berkembang dari yang bersifat fisik kepada pengusaan diri yang bersifat emosional. Anak harus belajar menahan kemarahannya pada orang tua atau saudaranya.

b. Nilai-nilai

Bersama-sama dalam proses berlatih penguasaan ini, anak diajarkan juga nilai-nilai. Contoh, melatih anak menguasai diri agar mainannya dapat dipinjamkan kepada temannya, maka disitu dapat muncul suatu makna tentang arti kerja sama.

c.Peran-peran sosial

Anak mempelajari peran sosial melalui interaksi sosial di dalam kelaurga. Setelah dalam diri anak berkembang kesadaran diri sendiri yang membedakan dirinya dengan orang lain,dia mulai mempelajari peran-peran sosial yang sesuai dengan gambaran tentang dirinya.

d. Peran orang tua

Peran utama orang tua ialah berkembang biak dan mengasuh serta membesarkan anak untuk dapat menjadi warga masyarakat yang berguna.Peran yang merupakan perwujudan  tindakan-tindakan dalam interaksi dari perilaku sesuai kedudukannya dengan pelaku lainnya sesuangguhnya merupakan suatu kenyataan empirik dan bukan sesuatu yag normatif dan ideal. Sehingga, bla peran tersebut sesuatu yang ideal maka dinyatakan sebagai peran yang seharusnya dijalankan oleh pelaku.

 

F. Ciri Yang Melekat Pada Keluarga

Ciri yang melekat pada keluarga dapat dibagi menjadi dua, yaitu :

  1. Aspek Internal (hubungan orang trua dengan anak)

Berdasarkan penelitian Fels Research Institute, pola interaksi orang tua-anak dapat dibedakan menjadi 3 , yaitu :

  1. Pola menerima – menolak
  2. Pola memiliki – melepaskan
  3. Pola demokrasi – otokrasi
  4. Aspek Sosial

Aspek ini menyangkut status social yang hasrus dimiliki keluraga dalam struktur dan status kehidupan masyarakat.

Menurut penelitian yang dilakukan Universitas Chicago sekitar tahun 1990-an menyimpulkan bahwa keluarga kelas sosial menengah kurang menerapkan hukuman bada, lebih mendorong tercapainya prestasi , dan memberi tanggung jawab leluasa kepada sang anak. Latar belakang pola tindakan dan interaksi orang tua dalam menerapkan metode interaksi dipengaruhi kelas sosial terutama alasan ekonomi.

  1. Keluarga kelas sosial bawah umumnya memiliki banyak anak, penghasilan kecil sehingga anak dituntut patuh, tidak rebut, tidak boleh berinisiatif.
  2. Orang tua dari kelas bawah memiliki pekerjaan yang rendah, memiliki sikap patuh kepada majikannya, sikap ini kemudian terpancar dalam interaksi dengan anaknya.

G. Hubungan Timbal Balik Keluarg , Sekolah bagi Individu

  1. Pergaulan Dalam Keluarga

Dalam menciptakan hubungan di dalam sebuah keluarga orang tua harus bisa memberi contoh dan menjadi tauladan bagi putra-putrinya. Dengan adanya pergulan yang baik dalam keluarga maka secara tidak langsung anak telah dididik untuk bisa bergaul dengan baik dalam kehidupan masyarakat natinya.

  1. Pergaulan Dalam Sekolah

Sekolah sebagai lembaga formal dimana guru berp polaeran sebagai pendidik dengan segala kewibawaannya harus mampu membawa anak didik menuju kedewasaan. Dalam lingkungan sekolah individu dihadapkan pada pola orientasi kehidupan yang lebih luas. Secara prinsipil sekolah sebagi ruang terorganisasi yang didalamnya terdapat peran-peran yang cukup kompleks.

  1. Pengaruh Keluarga Sekolah Terhadap Individu

Proses sosialisasi individu berjalan seiring dengan perkembangan fisik dan emosinya. Seiring perkembangan fisiknya, individu mendapatkan perlakuan yang intensif sehingga ia benar-benar merasa memiliki kepribadian yang dewasa.

Ketika individu sudah cukup memiliki kemampuan untuk melakukan aktivitas mendasar sebagai manusia, ia memasuki kehidupan luar dari keluarganya, yaitu sekolah.

Keluarga dan sekolah adalah dua lembaga yang selalu beriringan mengisi setiap kehidupan individu. Keluarga bertugas mernjalankan sosialisasi nilai-nilai dasar kemnusiaan sementara sekolah menekankan pada proses pembelajaran, pengajaran, serta penempaan individu tentang iptek, ketrampilan, dan pengusaan peran sosial dalam masyarakat.

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s