zonawidasworo

percaya dan resapilah

Bapak, Kami dan CA Esofagus September 11, 2019

Filed under: Uncategorized — rarasarumwidasworo @ 3:28 pm

Rasanya baru kemarin kami bercanda, tentang bagaimana dulu sering kami menertawakan hal-hal kecil. Lalu semenjak bapak terdiagnosa kanker esofagus sekitar 17 bulan yang lalu, rumah terasa suram dan pekat. Masih segar diingatan saya ketika itu, ketika bapak bercerita (bukan mengeluh) tentang lamanya makanan yang ia telan seperti tersangkut ditenggorokan. Beliau harus bersabar menunggu sekitar 1/2 jam agar makanan bisa turun ke perut. Kala itu ada perasaan mengganjal di benak saya.

Saya ingin berpikir positif, mungkin bapak hanya kesereten biasa, tapi semakin sering beliau merasakan ketidaknyamanan itu. Kami, anak-anak bapak dan ibu menyarankan beliau untuk periksa. Saya yang mempunyai bayi yang belum genap 2 tahun tak bisa membantu apa-apa, hanya menemani beliau dan bercanda ketika beliau dirumah, saat itu bapak masih aktif di sekolah. Disela-sela kesibukannya bapak bolak balik kerumah sakit, kalau saya hitung kurang lebih 1 bulan , hingga bapak harus melakukan biopsi. Ketika mendengar biopsi pertama kali dari mulut bapak, hati saya mencolos, tidak bisa berkata apa-apa, menangis dalam hati. Menurut sepengatahuan saya saat itu tentang biopsi adalah tentang kanker.

Saya berdoa, semoga bapak tidak sakit parah, bapak kembali sehat seperti semula. Namun Allah berkehendak lain, setelah bapak opname sekitar 3 hari di RSUD untuk biopsi dan mendapatkan hasil pemeriksaan yang entah berapa hari kemudian baru keluar. Bapak hanya menjelaskan kepada saya dan ibu bahwa beliau mempunyai tumor di area esofagus. untuk seberapa parah bapak tidak bercerita. Untuk mendapatkan pengobatan bapak kembali terpontang panting, dilempar kesana kemari hingga beliau dirujuk ke rumah sakit yang berada di pusat kota. Saya takut terjadi sesuatu yang parah. saya takut bapak menderita. dari saat itu saya sering menangis di kamar, tanpa suara, tanpa isakan, dan itu membuat hati saya semakin sakit.

Bapak menderita kanker esofagus stadium IV. Saat itu bapak sudah mulai kesusahan menelan makanan. Bulan Desember 2017 Kami ikut bapak diboyong kakak laki-laki saya ke jogja untuk menemani beliau berobat disana. Saya belum bercerita, saya sudah bersuami, namun karena kebesaran hati suami saya, saya diizinkan untuk tinggal untuk menemani Bapak selama yang saya inginkan. Walaupun saya tidak pernah menemani bapak opname, walaupun saya hanya dirumah. Semoga saat itu bapak merasakan keberadaan saya dan Rafif anak saya yang menanti  dan mendoakan beliau dirumah.

Januari 2018 Bapak dioperasi. Kala itu operasi berlangsung selama 8 jam. Tergolong operasi besar dan sangat riskan. Kami hanya bisa pasrah apapun yang terjadi. Allah maha baik. Allah maha baik, saya yakin semua hal yang terjadi saat itu adalah yang terbaik bagi bapak dan kami.

Sel kanker yang diderita bapak sudah sangat besar dan menyebar hingga 17 cm panjangnya sepanjang jalan makan dari lambung. Tim dokter sama sekali tidak melakukan tindakan pengangkatan. Operasi yang berlangsung sangat lama, namun tidak dilakukan apa-apa, kami yang awam tentang itu hanya bisa menyerahkan segala keputusan kepada tim medis. Saat operasi tersebut bapak dipasangi selang langsung ke lambung sebagai jalan makan beliau. Awalnya bapak sangat sulit menerima hal tersebut, lambat laun bapak mulai mau makan dan minum melalui selang tersebut.

Setelah operasi pemasangan selang tersebut. sekitar sebulan bapak dalam masa pemulihan. Mulai Februari 2018 bapak menjalani kemo hingga berkali-kali dengan harapan mampu memperkecil sel kanker. sebulan sekali, selama 5 hari bapak bolak balik opname untuk kemoterapi. Lalu pulang dengan jarak 1 minggu untuk kontrol dan 1 minggu kemudian kemoterapi kembali selama 5 hari ini berlangsung 6 kali. Sekitar 6 bulan bapak merasakan betapa menyiksanya kemoterapi. Untuk seorang yang berjiwa besar dan penuh semangat seperti bapak. untuk segala kekuatan yang baliau miliki kami sangat merasakannya, kami sangat merasakan betapa beliau tidak ingin memperlihatkan betapa sakitnya beliau. Betapa beliau tidak ingin melihat orang-orang disekitarnya merasakan kesedihan.

Hasil evaluasi terakhir, tidak begitu membuat hati kami lega, walaupun bapak sudah mulai bisa menelan makanan kembali. Akhirnya bapak harus kembali di kemoterapi 6 kali lagi. bedanya untuk kemo yang tahap 2 ini bapak tidak perlu opname. Sangat berterimakasih kepada adik perempuan saya, anak ke 3 bapak. Ia sampai resign dari pekerjaannya di Jakarta untuk menemani bapak dirumah dan merawat beliau bersama ibu. Saat itu saya dan anak saya kembali untuk tinggal   bersama suami saya. Berat tapi apapun itu harus tetap dijalani. Semua hal untuk pelajaran, semua hal untuk mendewasakan. Kami saat- saat itu selalu berpikir , kami hanya menjalani hari itu, tidak ingat tentang kemarin dan tidak ingin mencurigai apapun tentang hari esok. Yang kami ingat adalah bagaimana menjadi sepercik semangat yang mengobarkan api semangat bapak sewaktu beliau merasa padam.

Enam kali kemoterapi tahap kedua telah beliau selesaikan pada Januari 2019. Bapak masih bisa makan seperti biasa dan masih menunggu lama agar bisa turun ke lambung. Fisik beliau jangan tanyakan lagi, begitu kurus, berat badannya turun drastis, yang sebelumnya 75 kg saat itu sudah menjadi 54 kg. Beberapa kali saya kembali pulang untuk menjenguk bapak, sering saya melihat area sekitar perut beliau memerah seperti iritasi dan terluka (yang saya rasakan perih) namun bapak hanya meringis ketika itu tanpa keluhan lalu tersenyum getir. Kulitnya kering, menghitam sampai pembuluh darah yang terlewati obat kemo sangat jelas biru kehitaman tergaris sepanjang lengan, rambut mulai rontok, bapak terlihat sangat ringkih diluar tapi yang sangat saya syukuri bapak berjiwa besar sangat kuat dalam menghadapi cobaan tersebut. Bapak tetap sholat 5 waktu, malah lebih sering ke masjid dan sering mengaji dan mendengarkan ceramah di tv. Bapak ingin kembali baru, menjadi baru yang lebih baik.

Februari 2019, adik saya Sita menikah. Acara yang sederhana sesuai keinginannya. Setelah acara tersebut, Bapak tetap masih ringkih dan sering menyendiri di kamar. Namun saya sangat sedih saat sita harus mengikuti suaminya yang sudah PNS di Jakarta. Saya tidak bisa kembali pulang, saya merasa bukan anak berbakti, tapi bapak pernah bilang ke saya ketika itu ” Bapak atine seneng banget, anak bapak akhirnya cita-citanya tercapai juga. atine bapak mak cles pas mbok kabari ketompo CPNS”.Ya Allah saat itu  apakah hanya ini satu-satunya kebahagiaan yang mampu saya berikan kepada bapak saya. Semoga tidak, semoga ada hal-hal lain dari saya sebelumnya yang mampu membahagiakan bapak. Semoga ya Allah, semoga saya masih dianggap berbakti oleh beliau hingga akhir beliau. Astaghfirullah… maafkan anakmu ini ya pak yang belum mampu membahagiakanmu.

Betapapun kami anak-anak bapak ingin menemani beliau sampai saat-saat yang terpuruk pun. Pada akhirnya kami hanya bisa mendoakan dari jauh. Bapak tidak lagi mau di kemo ” Bapak wes kesel nduk” ucap bapak. tapi tetap saja beliau tidak ingin membuat hati anak-anaknya sakit. Beliau bercerita bahwa beliau mengkonsumsi herbal. mungkin ini usaha yang terakhir yang beliau lakukan. Tapi memang benar, ketika saya pulang, bapak dengan semangat untuk sembuh rajin mengkonsumsi berbagai macam herbal untuk kanker. Selang di perut satu-satunya jalan semua nutrisi masuk ke dalam tubuh beliau. Dengan kecirihpayahan beliau bertahan hingga akhirnya berulang kali drop dan harus sering keluar masuk rumah sakit.  Bapak , seberapapun menderitanya dirimu kala itu hingga engkau dipanggil kembali kepada Yang Maha Kuasa semoga mampu membakar dosa-dosamu. Bapak yang baik hatinya, penyayang keluarga, pekerja keras, penderma semangat, petani kebaikan, pemanen rindu, semoga engkau selalu dalam keadaan baik di alam sana. Semoga surga untukmu kelak. Aamiin..Aamiin.. Aamiin ya Rabbal ‘alamin…

 

Iklan
 

Sekali Lagi Kecewa pada Diri Sendiri September 5, 2019

Filed under: Uncategorized — rarasarumwidasworo @ 11:58 am

Ini mungkin saat-saat mengecewakan dalam diri saya. ketika merasa telah berusaha dengan sekuat tenaga dan menghabiskan waktu yang cukup lama untuk menghadapinya. Tapi pada kenyataan segala usaha itu tidak sebanding dengan hasil yang ada. Jujur saya merasa sangat kecewa, kecewa pada diri sendiri, ingin teriak, menangis dan menyerah. lalu setelah itu apa yang akan terjadi, kalau saya lakukan itu semua. Ada hal yang saya yakini untuk menenangkan diri, salah satunya adalah rejeki itu hanya Allah yag Maha Tahu.
tapi tetap saja saya sedih ya Allah. mungkin ini salah satu hal yang bisa membuat Bapak sama Ibu bahagia, tapi belum bisa saya lakukan.
Saya sedih ya Allah, semoga ada gantinya ya . Ya Allah semoga saya menjadi seseorang yang bisa bersyukur atas segala-galanya ini .. aamiin

 

Tentang Kehilangan September 4, 2019

Filed under: Uncategorized — rarasarumwidasworo @ 3:42 am

Dalam hati kita saling tersenyum menghadapi berbagai masalah kehidupan, tentang kehilangan yang ketika kita menghadapinya terasa sesak dan merasa tak punya kekuatan lebih. Seperti yang saya alami dalam jarak 2 minggu ini. Saya kehilangan anak dan kehilangan Bapak untuk sementara. kenapa saya bilang sementara, sudahkah kita meyakini bahwa kehidupan yang kekal adalah kehidupan akhirat. Dunia ini hanya sementara dan fana.

Saya yakin saya akan bertemu Bapak lagi serta putri tercinta saya kelak di surga Allah.. insya Allah..AAmiin..

Tentang  kehilangan ini semoga mampu mendewasakan saya.. masalah atau ujian ini adalah pengingat saya untuk selanjutnya menjadi manusia yang banyak bersyukur dan lebih bahagia. Manusia yang berbeda dengan ketenangan dan kesholehahan.aamiin

Ya Allah jauhkan kami dari api neraka.. jauhkan kami dari godaan setan yang menakutkan.. Ya Allah ampuni dosa kami, dosa bapak ibu kami.. berikanlah tempat terbaik di surgaMu kelak. pertemukan lagi kami kembali dalam keadaan suci dan layak menjadi penghuni surgaMu,, aamiin

 

 

kalau ada yang saya kagumi. mungkinn iya kamu, tapi bukan kamu secara nyata. aku kagum pada tulisanmu. tapi kenapa kamu ambil tulisanku ( sakitnya tuh disini :”( ) Oktober 14, 2014

Filed under: Uncategorized — rarasarumwidasworo @ 2:45 am
 

mengeluh Januari 20, 2014

Filed under: Uncategorized — rarasarumwidasworo @ 12:20 am

Ra- Bagaimana aku melupakanmu? Dengar aku mengagumi karena mimpimu dan terkadang aku takut berpaling darimu , ketika keadaan tidak mendukung lagi, aku takut berpaling darimu.

ketika aku terdiam tidak menyapamu dalam sehari, anggap saja aku terlau pengecut, aku hanya tak ingin bosan mendengar keluhan-keluhanmu.

Jangan mengeluh sayang. Sejujurnya aku ingin selalu mengatkanmu dan menyemangatimu. Tapi jika kau lakukan itu berulang kali, lalu apa guna semangat dariku? sama sekali tak berhargakah? sehingga kau mudah mengeluh kembali. 

Dengar ada seorang kakak yang pernah menasehatiku “Mengeluh hanya akan menghabiskan beberapa energimu, yang seharusnya bisa kau gunakan untuk hal yang lain yang lebih berguna.”

Dengar sayang , aku harus mngubah presepsi, bahwa aku harus mencintaimu karena Allah tapi bukan sekarang. Karena belum tentu kita bersama, belum tentu kita satu arah. Walaupun aku yakin sayang kita satu tujuan.

Dengar sayang kaulah yang berharga, kau harus kuat. kau mendekati sempurna tanpa keluhan tentang hidup.

 

 

Pangeran Kecil Januari 19, 2014

Filed under: Uncategorized — rarasarumwidasworo @ 11:47 pm

Ra- Hari itu sebenarnya saya tidak berencana untuk mengajar di kelas empat. Tapi entah kenapa sejak saya sampai ke SD pagi itu, anak-anak kecil itu dengan antusias memanggil-manggil saya dan meminta saya untuk mengajar di kelas mereka. Yah baiklah, kebetulan guru kelas empat sedang sakit sehingga saya langsung saja masuk ke kelas mereka. Ritual pertama yang di lakukan mereka adalah berbaris di depan kelas lalu satu demi satu bersalaman dengan gurunya, dan pagi itu saya sebagai guru mereka. Mengesankan, mereka bersemangat seperti biasa, senyuman mengembang setelah bersalaman. Anak- anak itu sungguh luar biasa. Bagaimanapun tidak kerennya mereka, bagaimanapun anehnya mereka, bagamanapun nakalnya mereka, saya sangat menyayangi mereka bagai anak sendiri, walaupun saya belum mempunyai anak( curhatan guru single #jiahh).

Waktu pelajaran pun dimulai , saya dengan antusias memberi penjelasan, pertanyaan, jawaban, kuis bahkan gurauan. Hingga saat saya memerintahkan  mereka menulis rangkuman tentang pejaran hari itu. Saya kemudian duduk di meja guru dan mata saya tertuju pada sebuah buku yang lumayan lusuh, dengan berbagai robekan yang disengaja. Hati saya sakit seketika. Saya seperti merasakan perasaan penulis buku itu jika melihat hasil kerja kerasnya diperlakukan seperti itu, apakah sesakit seperti yang saya rasakan sekarang. Saya marah, tapi tidak saya ungkapkan seketika itu. Saya raih buku itu saya amati “Pangeran Kecil” Judulnya, sebuah novel anak terjemahan. Seketika saya meminta anak untuk tidak membuat kegaduhan dan meminta izin keluar sebentar. Hal yang pertama yang ingin saya lakukan adalah sedikit menyelamatkan buku itu.

Sisa jam pelajaran sedikit tidak menyenangkan, saya berusaha untuk bersimpati pada mereka, bahwa mereka tidak tahu apa-apa. Tapi pada akhitnya saya pun bertanya siapa yang melakukan hal yang tidak terpuji pada buku itu, dan hasilnya tak ada yang mengakui. Hal semacam inilah yang akan membuat mereka menjadi seorang yang tidak bertanggung jawab jika didiamkan. Tidak mengakui kesalahan dan tidak menghargai karya orang lain.

Untuk pertemuan selanjutnya anak-anakku, ibu akan menceritakan pada kalian sebuah cerita tentang buku yang sudah kalian rusak itu.. buku yang halaman 8 telah menghilang

Buku itu, ibu yakin akan membawa kalian kesebuah negeri yang berbeda. Negeri yang ada pangeran kecilnya yang menanti kalian memahami dan mengerti satu sisi dalam kehidupan

Dan semoga kalian selalu bisa belajar memaknainya dan menjadi dewasa yang mengagumkan di masa depan.

Untuk “Pangeran Kecil” maafkan anak-anak saya ya..

Semoga engkau buku pertama dan terakhir yang tidak mendapat perlakuan baik dari anak-anak saya itu.

 

Ayo Pulang Agustus 16, 2013

Filed under: Uncategorized — rarasarumwidasworo @ 8:02 am

Ayo pulang
Apakah kau tak rindu rumah yang hangat itu, bahkan masakan terenak sudah tersajikan disana. Ada ibu yang siap memelukmu dengan kehangatanya, ada ayah yang menyejukkan dengan senyumannya.
Ayo pulang
Apakah kau tak rindu udara segar khas pedesaan, dengan ranum hijau padang ilalangnya. Ada jangkrik yang masih belum bosan menyuarakan syairnya. Ada pohon rambutan dibelakang rumah yang siap kau pangkas habis.
Ayo pulang
Setidaknya mereka merindukamu. Bukan karena kau sudah dewasa hingga sekarang, bukan karena kau mampu membawa mobil mewah dari kota rantaumu, bukan karena segala pernik oleh-oleh yang kau ingin bagi.
Ayo pulang
Keluargamu hanya ingin menemuimu.



-RA-